Naskah karya : Obi Suharjono
Jubah Hitam Keadilan
“......Mengungkap keadilan, bukan berarti
harus menyalahkan alat keadilan.....”
“...... tapi bagaimana mempergunakan alat keadilan dengan manusiawi........”
“...... tapi bagaimana mempergunakan alat keadilan dengan manusiawi........”
SEBUAH RUANG KERJA , SEBELAH KANAN
PANGGUNG BERISI MEJA KERJA BESERTA BUKU-BUKU DAN PERLENGKAPAN MENULIS,
SEBELAH KANAN MEJA KERJA TERDAPAT SATU TIANG PENYANGGA JAS
KERJA,LENGKAP DENGAN JASNYA. ALMARI DISEBELAH TIANG PENYANGGA JAS KERJA,
KURSI DAN MEJA TAMU.
ADEGAN PERTAMA :
WAKTU MALAM HARI, KEADAAN GELAP DAN SUNYI, LAMPU WARNA MERAH MENYALA KE TIANG PENYANGGA JAS KERJA, TIDAK LAMA KEMUDIAN TERDENGAR SESEORANG MENUJU RUANGAN TERSEBUT, SAMBIL SESEKALI BATUK. KEMUDIAN LAMPU MERAH MATI, LALU LAMPU NETRAL MENYALA KE MEJA KERJA. MASUK SEORANG LAKI-LAKI TUA BERKACA MATA MEMAKAI BAJU SANTAI, DAN DUDUK DI KURSI BELAKANG MEJA. MENGAMBIL SEBUAH BUKU AGENDA KERJA DAN MEMBACA. SESEKALI LELAKI TUA TERSEBUT MEMBETULKAN KACA MATANYA SAMBIL TERUS MEMBACA. DISISI LAIN JAM DINDING TERDENGAR BERDENTING. TIDAK LAMA KEMUDIAN ISTRI LELAKI TERSEBUT MASUK DENGAN MEMBAWA SEPIRING KUE DAN SEGELAS KOPI.
Ibu :
Paak, berhenti dulu.
Ni ibu bawain kue dan segelas kopi kesukaan bapak
( sambil melempar senyum ramah dan hangat )
Bapak :
( tanpa kata, bapak juga menyambut senyuman itu, sambil melihat kue dan kopi yang ibu bawa, dan kembali bapak melanjutkan membaca )
Ibu :
Loh ko cuman dilihat ?
Ayo pak dimakan dulu kuenya
Bapak :
( tetap diam, memandang kue sebentar dan kembali melempar senyum ke ibu, lalu bapak menuruti kata-kata ibu, untuk memakan kue itu )
Ibu :
Nah gitu dong, apa susahnya sih pak, buat ngambil makanan yang sudah ada didepan mata,
( sambil sedikit membantu bapak merapikan ruangan bapak yang penuh dengan kertas-kertas catatan kerja berserakan, kemudian ibu duduk dikursi tamu sambil sedikit merapikan barang-barang yang ada di meja dan kursi tamu yang juga berserakan )
Pak, apa bapak masih menangani kasus Pembantu Rumah Tangga itu pak ?
Apa bapak juga masih menangani kasusnya pak udin ?
Paak, bapak sebaiknya mengundurkan diri pak, dari pada bapak terus terusan menangani kasus di negeri ini yang semakin hari semakin menyesakkan dada.
Tidak besar tidak kecil, pasti bapak mendapatkan teror, entah orang yang diputus bersalah itu orang miskin atau kaya, mereka semua menuntut keadilan.
Keadilan yang seperti apa sih pak, yang sebenarnya mereka cari ?
Ibu lihat, bapak sudah melaksanakan tugas menurut ketentuan pekerjaan bapak, tapi bapak masih saja disalahkan.
(menengok ke arah bapak yang dari tadi membiarkan ibu berbicara, dan menegor bapak dengan nada kesal)
Pak, bapak, ibu dari tadi ngomong kenapa di diemin ajah sih paak ?!!!
( bapak tetap diam dan meneruskan membaca, sesekali beranjak dari kursi dan mengambil buku-buku lain yang tersimpan dialmari, sedang ibu masih terus ngomel-ngomel )
Pak, bapak ndengerin ga siih obrolan ibu ?!!! ( menahan marah )
Bapak :
( sambil membaca buku yang diambil dari almari )
Tidak semudah itu bu, ini amanah, kalau bapak meninggalkan pekerjaan ini, itu sama halnya dengan seorang pecundang, dan sama halnya bapak itu adalah seorang pengecut, memang berat bu, bahkan sangat berat menjadi seorang algojo seperti bapak ini. Tapi bapak menjalankan semua ini demi tegaknya keadilan negri ini, lagi pula semua yang bapak putuskan, sudah sesuai kitab turun temurun.
( sambil mencopot kaca mata, dan menaruh buku di meja, sambil meminum kopi yang ada dimeja )
Bu, semua orang mempertanyakan keadilan, semua orang menginginkan keadilan, termasuk bapak, bu (
ADEGAN PERTAMA :
WAKTU MALAM HARI, KEADAAN GELAP DAN SUNYI, LAMPU WARNA MERAH MENYALA KE TIANG PENYANGGA JAS KERJA, TIDAK LAMA KEMUDIAN TERDENGAR SESEORANG MENUJU RUANGAN TERSEBUT, SAMBIL SESEKALI BATUK. KEMUDIAN LAMPU MERAH MATI, LALU LAMPU NETRAL MENYALA KE MEJA KERJA. MASUK SEORANG LAKI-LAKI TUA BERKACA MATA MEMAKAI BAJU SANTAI, DAN DUDUK DI KURSI BELAKANG MEJA. MENGAMBIL SEBUAH BUKU AGENDA KERJA DAN MEMBACA. SESEKALI LELAKI TUA TERSEBUT MEMBETULKAN KACA MATANYA SAMBIL TERUS MEMBACA. DISISI LAIN JAM DINDING TERDENGAR BERDENTING. TIDAK LAMA KEMUDIAN ISTRI LELAKI TERSEBUT MASUK DENGAN MEMBAWA SEPIRING KUE DAN SEGELAS KOPI.
Ibu :
Paak, berhenti dulu.
Ni ibu bawain kue dan segelas kopi kesukaan bapak
( sambil melempar senyum ramah dan hangat )
Bapak :
( tanpa kata, bapak juga menyambut senyuman itu, sambil melihat kue dan kopi yang ibu bawa, dan kembali bapak melanjutkan membaca )
Ibu :
Loh ko cuman dilihat ?
Ayo pak dimakan dulu kuenya
Bapak :
( tetap diam, memandang kue sebentar dan kembali melempar senyum ke ibu, lalu bapak menuruti kata-kata ibu, untuk memakan kue itu )
Ibu :
Nah gitu dong, apa susahnya sih pak, buat ngambil makanan yang sudah ada didepan mata,
( sambil sedikit membantu bapak merapikan ruangan bapak yang penuh dengan kertas-kertas catatan kerja berserakan, kemudian ibu duduk dikursi tamu sambil sedikit merapikan barang-barang yang ada di meja dan kursi tamu yang juga berserakan )
Pak, apa bapak masih menangani kasus Pembantu Rumah Tangga itu pak ?
Apa bapak juga masih menangani kasusnya pak udin ?
Paak, bapak sebaiknya mengundurkan diri pak, dari pada bapak terus terusan menangani kasus di negeri ini yang semakin hari semakin menyesakkan dada.
Tidak besar tidak kecil, pasti bapak mendapatkan teror, entah orang yang diputus bersalah itu orang miskin atau kaya, mereka semua menuntut keadilan.
Keadilan yang seperti apa sih pak, yang sebenarnya mereka cari ?
Ibu lihat, bapak sudah melaksanakan tugas menurut ketentuan pekerjaan bapak, tapi bapak masih saja disalahkan.
(menengok ke arah bapak yang dari tadi membiarkan ibu berbicara, dan menegor bapak dengan nada kesal)
Pak, bapak, ibu dari tadi ngomong kenapa di diemin ajah sih paak ?!!!
( bapak tetap diam dan meneruskan membaca, sesekali beranjak dari kursi dan mengambil buku-buku lain yang tersimpan dialmari, sedang ibu masih terus ngomel-ngomel )
Pak, bapak ndengerin ga siih obrolan ibu ?!!! ( menahan marah )
Bapak :
( sambil membaca buku yang diambil dari almari )
Tidak semudah itu bu, ini amanah, kalau bapak meninggalkan pekerjaan ini, itu sama halnya dengan seorang pecundang, dan sama halnya bapak itu adalah seorang pengecut, memang berat bu, bahkan sangat berat menjadi seorang algojo seperti bapak ini. Tapi bapak menjalankan semua ini demi tegaknya keadilan negri ini, lagi pula semua yang bapak putuskan, sudah sesuai kitab turun temurun.
( sambil mencopot kaca mata, dan menaruh buku di meja, sambil meminum kopi yang ada dimeja )
Bu, semua orang mempertanyakan keadilan, semua orang menginginkan keadilan, termasuk bapak, bu (
menghampiri
ibu, menenangkan ibu dengan obrolan yang santai )
Bapakpun ingin sekali membebaskan orang-orang yang memang mereka tak pantas untuk dihukum bu, secara hati nurani, tapi secara hukum, sekecil apapun kesalahan yang dapat merugikan orang lain, akan dikenakan sanksi kurungan atau denda bu, itu sudah aturan dari kitab Undang Undang dinegara ini. Aturan-aturan hukum yang berlaku memang tak mengenal kasta.
( ibu menyambung dengan sinis )
Ibu :
Tapi mengenal nominal dalam jumlah milyaran ???
Bapak :
Aduuhh… ibu ini bisa ajaahh,, tidak semua penegak hukum silau dengan nominal nominal yang mewah itu buy. Contohnya bapak,, ya kan ??
( sambil tersenyum manis, menghibur ibu yang masih cemberut, dan bapak mendekat tiba tiba terdengar suara jarot berteriak )
Bapak :
Selama ibu masih disamping bapak, semua yang ibu khawatirkan tidak akan terjadi. Hanya ibulah satu-satunya wanita yang bisa membuat hati bapak tenang.
Ibu :
Aaahhh.. bapak bias ajaah ( sambil menunjukkan sikap manja )
Jarot :
Bu.. ibuuu… jarot pulang buu,
Buuu… ibu dimana buuu….
Ibu :
Iya,
Ibu sama bapak diruang kerja bapak naak.
( jarotpun masuk dan menemui ibu dan bapak )
eeeaalaahh… anak ibu sudah pulang, keliatannya capek sekali kamu naak ?
Bapak :
( bertanya dengan sinis )
Dari mana saja kamu ?! jam segini baru pulang ?!!
Jarot :
( sambil melepas sepatu, dan mengambil sesuatu dalam tas )
Dikampus ada latihan dan rapat organisasi pak.
Bapak :
Latihan sampai larut gini, latihan apa ? latihan untuk jadi pembangkang yang tak punya dasar logika ? atau latihan untuk jadi orang apatis ? IP selalu rendah, mau lulus kapan kamu ? mau jadi koboy kampus yang punya banyak kasus ?
contoh bapak, walaupun bapak dulu seorang aktivis organisasi tapi bapak bertanggung jawab, bapak menyeimbangkan kegiatan bapak dengan kuliah bapak, dan terbukti bapak lulus dengan nilai tertinggi. Dan lulus sesuai kurikulum perkuliahan. .
Ibu :
( ibu mencoba menenangkan bapak yang sedang kesal dengan tingkah jarot )
Sudah pak sudah, jarot kan capeek, ibu yakin jarot tidak akan mengecewakan kita sebagai orang tuanya pak.
Bapak :
Tidak mengecewakan bagaimana bu ? jelas-jelas ini sangat mengecewakan, lihat tingkah lakunya, kadang pulang malam, kadang juga tidak pulang,
Alasannya klasik, latihan, rapat, latihan, rapat.
Tapi apa yang dia kasih buat kita bu, nilai kuliah yang jeblok, bahkan beberapa semester tak ada nilainya. Apa ini yang disebut tidak akan mengecewakan ?
Jarot :
( diam sambil bermain jari dan sedikit berbicara )
Mungkin ini karna uang yang bapak dapat tidak halal.
Bapak :
Apa ???!!! liat bu, liat anak ibu, betul-betul tidak tau trima kasih,
Seenaknya menuduh bapak mendapatkan uang tidak halal.
Jarot ;
Kalau uang yang bapak dapat itu uang halal, jarot tidak mungkin seperti ni pak.
Jarot sudah berulang kali mencoba untuk merubah semuanya supaya lebih baik, tapi tetap belum bisa.
Bapak :
( masih dengan keadaan marah, sambil menuju meja kerja )
Bapakpun ingin sekali membebaskan orang-orang yang memang mereka tak pantas untuk dihukum bu, secara hati nurani, tapi secara hukum, sekecil apapun kesalahan yang dapat merugikan orang lain, akan dikenakan sanksi kurungan atau denda bu, itu sudah aturan dari kitab Undang Undang dinegara ini. Aturan-aturan hukum yang berlaku memang tak mengenal kasta.
( ibu menyambung dengan sinis )
Ibu :
Tapi mengenal nominal dalam jumlah milyaran ???
Bapak :
Aduuhh… ibu ini bisa ajaahh,, tidak semua penegak hukum silau dengan nominal nominal yang mewah itu buy. Contohnya bapak,, ya kan ??
( sambil tersenyum manis, menghibur ibu yang masih cemberut, dan bapak mendekat tiba tiba terdengar suara jarot berteriak )
Bapak :
Selama ibu masih disamping bapak, semua yang ibu khawatirkan tidak akan terjadi. Hanya ibulah satu-satunya wanita yang bisa membuat hati bapak tenang.
Ibu :
Aaahhh.. bapak bias ajaah ( sambil menunjukkan sikap manja )
Jarot :
Bu.. ibuuu… jarot pulang buu,
Buuu… ibu dimana buuu….
Ibu :
Iya,
Ibu sama bapak diruang kerja bapak naak.
( jarotpun masuk dan menemui ibu dan bapak )
eeeaalaahh… anak ibu sudah pulang, keliatannya capek sekali kamu naak ?
Bapak :
( bertanya dengan sinis )
Dari mana saja kamu ?! jam segini baru pulang ?!!
Jarot :
( sambil melepas sepatu, dan mengambil sesuatu dalam tas )
Dikampus ada latihan dan rapat organisasi pak.
Bapak :
Latihan sampai larut gini, latihan apa ? latihan untuk jadi pembangkang yang tak punya dasar logika ? atau latihan untuk jadi orang apatis ? IP selalu rendah, mau lulus kapan kamu ? mau jadi koboy kampus yang punya banyak kasus ?
contoh bapak, walaupun bapak dulu seorang aktivis organisasi tapi bapak bertanggung jawab, bapak menyeimbangkan kegiatan bapak dengan kuliah bapak, dan terbukti bapak lulus dengan nilai tertinggi. Dan lulus sesuai kurikulum perkuliahan. .
Ibu :
( ibu mencoba menenangkan bapak yang sedang kesal dengan tingkah jarot )
Sudah pak sudah, jarot kan capeek, ibu yakin jarot tidak akan mengecewakan kita sebagai orang tuanya pak.
Bapak :
Tidak mengecewakan bagaimana bu ? jelas-jelas ini sangat mengecewakan, lihat tingkah lakunya, kadang pulang malam, kadang juga tidak pulang,
Alasannya klasik, latihan, rapat, latihan, rapat.
Tapi apa yang dia kasih buat kita bu, nilai kuliah yang jeblok, bahkan beberapa semester tak ada nilainya. Apa ini yang disebut tidak akan mengecewakan ?
Jarot :
( diam sambil bermain jari dan sedikit berbicara )
Mungkin ini karna uang yang bapak dapat tidak halal.
Bapak :
Apa ???!!! liat bu, liat anak ibu, betul-betul tidak tau trima kasih,
Seenaknya menuduh bapak mendapatkan uang tidak halal.
Jarot ;
Kalau uang yang bapak dapat itu uang halal, jarot tidak mungkin seperti ni pak.
Jarot sudah berulang kali mencoba untuk merubah semuanya supaya lebih baik, tapi tetap belum bisa.
Bapak :
( masih dengan keadaan marah, sambil menuju meja kerja )
Alasan !!!, jangan pernah menyalahkan orang lain jika itu adalah perbuatanmu.
Ibu :
( ibu kembali menjadi penengah dan mencoba menenangkan keduanya )
Sudah sudah suudaaah…kenapa jadi tambah ribut begini sih, sudah malam ga enak sama tetangga, sekarang jarot masuk kamar, ganti baju lalu istirahat
Jarot :
( sebelum pergi jarot memberikan sepucuk surat kepada ibunya, surat tersebut dari adik perempuan jarot yang sedang berkuliah di luar kota )
Bu, ada surat dari ana
Ibu :
Ooh.. iya nak, makasih yaah,
Sudah sekarang cepat kamu masuk kamar trus langsung istirahat.
Jarot :
Iya bu.
Bapak :
( setelah semuanya reda.Kembali bapak membaca buku )
Bapak tidak habis pikir bu, kenapa anak kita yang satu itu sangat keras, tidak seperti si ana, liat anak itu, sangat mandiri, selepas lulus dari SMA, langsung bekerja dan berkuliah dengan biaya sendiri,
Yaaa,, walaupun terkadang dia minta untuk sekedar jajan. Tapi setidaknya tidak sepenuhnya ana meminta semua biaya hidup ke bapak.
Ibu :
( masih mencoba untuk menenangkan )
Itulah manusia pak, diciptakan berbeda memang untuk disatukan, dan menjadi contoh antara yang satu dengan yang lain. Jangan terlalu dipikirkan pak.
( mendekat ke bapak mengajak bapak untuk tidur, sambil membawa buku yang tadi selesai dibereskan untuk ditaruh diatas meja, tapi saat meletakkan buku ke meja surat dari ana jatuhn dekat meja )
Sudah larut pak, ibu sudah ngantuk, ayo tidur.
Bapak :
Ibu saja dulu, nanti bapak menyusul.
Ibu :
Ya sudah pak ibu duluan.
Bapak :
( Sedikit melempar senyum melepas kepergian ibu untuk tidur, ibu keluar dan bapak tetap meneruskan membaca )
PERLAHAN LAMPU MATI, DAN LAMPU MERAH MENYALA KE ARAH SURAT ANA YANG TERJATUH. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN LAMPU MATI.
ADEGAN KEDUA :
WAKTU MALAM HARI, LAMPU NYALA MENGARAH KE SEBUAH FOTO DI ATAS MEJA KERJA. BAPAK DATANG MENGARAH KE ALMARI MENGAMBIL BUKU, TAPI TANPA DISENGAJA BAPAK MENYENTUH TEMPAT BUKU SEBELAH FOTO, SAMPAI FOTO TERJATUH, BAPAK KAGET DAN LANGSUNG MENGAMBIL FOTO TERSEBUT, SEBELUM MELETAKKAN KEMBALI KE TEMPAT SEMULA, BAPAK MELIHAT FOTO, SAMBIL SENYUM-SENYUM, BAPAK MEMBAYANGKAN SAAT-SAAT BERSAMA DENGAN UDIN, SAHABAT SEMASA KULIAH DULU, TERUS DILIHAT FOTO ITU, SAMPAI ADA TELPON BERDERING BAPAK TAK SADAR.
Bapak :
( telpn berbunyi sampai tiga kali, ke tiga kalinya barulah bapak sadar dan langsung mengangkat tlpon )
“hallo … selamat malam, dengan hakim munir disini”
Mr X :
Saya peringatkan kepada bapak hakim yang terhormat, kasus saudara udin jangan lekas diputuskan, saya minta diperlambat,
Bapak :
Maaf ini siapa ?
Mr X :
Anda tidak perlu tau siapa saya, yang jelas, anda harus melakukan apa yang saya perintahkan, kalau tidak nasib anda akan sama seperti algojo-algojo meja hijau yang lain
Bapak :
Maaf saudara, saya tidak takut dengan ancaman saudara.
Silakan kalau anda berani !!!
( tut tut tut… telpn mati, dan bapak menanggapi dengan biasa, karena bapak sudah sering menghadapi teror-teror semacam itu )
Bapak :
dasar orang iseng.!!
( kembali bapak meneruskan pekerjaannya, tidak lama kemudian ibu masuk dengan tingkah kebingungan, tapi tetap bapak menghadapi dengan santai )
Ibu :
Pak, bapak..
Bapak :
Apa.. ?
Ibu :
Bapak lihat surat dari ana ?
Bapak :
Bukannya kemarin dipegang sama ibu ?
Ibu :
Iya tapi .. tapi tidak ada paak
Bapak :
Ah.. ibu ini bagaimana sih, dasar ceroboh
Ibu :
Aah.. bapak ini, bukannya membantu malah ngomelin ibu ?
( tiba-tiba surat itu terjatuh dari tumpukan buku bapak diatas meja )
Naah.. ini paak, suratnya,
Bapak :
Nah lo.. ko bisa ada ditumpukkan buku bapak ?
Ibu :
Harusnya ibu dong yang nanya ke bapak ? kenapa bapak ngumpetin suratnya ?
Bapak :
Bapak ga ngumpetin bu, bapak justru baru tau kalau suratnya ada ditumpukkan buku-buku bapak.
Ibu :
Alesan !!! ( dengan nada sewot )
( kemudian ibu membaca di kursi tamu ruangan kerja bapak, ketika ibu akan membuka surat, bel rumah berbunyi, ibupun langsung meletakkan surat yang hendak dibaca dan langsung pergi membuka pintu )
Ting tong… ting tong…
Ibu :
Ya sebentar..
Ting tong… ting tong
( kemudian ibu kembali, ternyata itu sebuah paket yang entah berisi apa, diatas kotakan paket tersebut bertuliskan, “Yang dihormati oleh sesama algojo, Bapak Munir, SH.Mhum )
Ibu :
Pak, ada paket buat bapak.
Bapak :
Letakkan dulu dimeja bu.
Ibu :
Dibuka dulu pak, siapa tau ini kiriman penting dari kantor pusat.
( lalu ibu menyerahkan paketan tersebut, kemudian bapak membuka paket tersebut, dan apa yang terjadi, bapak dan ibu kaget ternyata isi paketan tersebut adalah sebuah boneka kesayangan ana yang berlumur darah, bapak dan ibu sontak terkaget dengan isi dalam paket tersebut, bapak mengambil kertas yang ada didalam paket tersebut, dan berisi ancaman yang lebih gila )
Bapak :
Bu, suratnya bu, coba dibuka
“Isi surat dalam paket”
bapak munir yang terhormat,sebentar lagi kau akan melihat anak gadismu terbujur kaku didepan pintu rumahmu
( ibu kaget dan langsung pingsan, sampai ibu dirujuk ke rumah sakit )
Bapak :
Jarot… jaroot, ibumu naak,
Jaroot… jaroooooooottt.
( lama memanggil jarot, ternyata jarot tidak berada dirumah, dengan suasana panik, bapak segera mengambil telpn, dan menelpon ambulans )
Hallo… hallo… ambulans
Ya pak, tolong segera kirim ambulans ke rumah no 49 blok G, tiara permai, daerah pondok bunga pak.
Ya.. pak, cepat pak,
( bapak dengan setia terus menemani ibu, sambil menunggu ambulans datang, masih meratapi ibu yang pingsan, dan yang ditunggu-tunggupun akhirnya datang, suara sirine ambulans, bapak dengan cekatan membawa ibu ke luar ruangan )
LAMPU PERLAHAN MATI
ADEGAN KETIGA
RUANG KERJA BAPAK, TERLIHAT SESEORANG SEDANG MENGOBRAK ABRIK MEJA KERJA BAPAK, SEDANG MENCARI SESUATU, BAPAK MASUK MEMERGOKI ORANG TERSEBUT, TERJADILAH PERSELISIHAN
LAMPU NETRAL NYALA KE ARAH MEJA BAPAK.
( bapak masuk dan memergoki orang tersebut )
Bapak :
Heh. Siapa kamu !!!
( melihat ke arah tembok, dan mengambil senjata yang menempel ditembok )
Bapak :
Kalau tidak berhenti, akan aku tembak !!!
Heh !!!
( seseorang tersebut akhirnya berhenti, dan menoleh secara perlahan )
Bapak :
Siapa kamu ??!! berani-beraninya masuk ruanganku ??!!!
(dengan santai sesorang tersebut membuka penutup mukanya, bapak terkaget, ternyata setelah dibuka orang tersebut tidak lain adalah anaknya sendiri, yaitu jarot, bapak menjatuhkan senjatanya)
Bapak :
Jarot ???
Apa yang kamu cari ???
( bapak mendekat, tapi justru jarot mengambil pistol yang disimpan di belakang badannya )
Jarot :
Tidak usah sok baik kamu munir, mana berkas-berkas perkara pak udin ?? ayo cepat serahkan.
Bapak :
Baik.. baik, tapi letakkan dulu senjata yang ada ditanganmu itu naak
Jarot :
Ayo cepaaaaatt !!!. Saya tidak punya banyak waktu
Bapak :
( bapak menyerahkan berkas perkara pak udin kepada jarot )
Buat apa kamu minta berkas-berkas itu ? kamu disuruh siapa ?
Jarot :
Tidak usah banyak tanya, munir !!! saya hanya butuh berkas-berkas itu. Sini, cepat serahkan berkas itu.
Saya sudah muak melihat tingkah laku anda. Anda yang terhormat dan anda seorang pemutus keadilan, ditakuti setiap orang yang duduk didepan anda, tapi apakah anda tau keadilan itu apa, keadilan itu milik siapa, dan siapa yang pantas mendapatkan keadilan ?!! keadilan yang anda tau hanyalah keadilan yang ada di kitab turun temurun.
Dan yang saya sayangkan, anda tega menyembunyikan status saya dengan pak udin ?
Dan sekarang saya baru tau, kenapa saya selalu dibedakan, kenapa saya selalu disalahkan.
Bapak :
( bapak tertawa ringan )
Jarot :
Eh… malah tertawa !!! ada yang lucu dengan perkataan saya ?!!! anda ngledek saya ?
Bapak :
( bapak menceritakan yang sebenarnya )
Maaf..maaf.. bapak tidak bermaksud meledek. Tapi apa km sudah siap mengetahui yang sebenarnya ?
Jarot :
( dengan muka sedikit ragu dan canggung )
Sii..sii..siiaap !!
Bapak :
Baiklah, kalau kamu memaksa bapak nak.
Semua terjadi 22 tahun yang lalu, pada saat itu bapak dan pak udin masih duduk di bangku perkuliahan dan sama-sama menjadi seorang aktivis, tapi bapak selalu ditindas dalam organisasi, menjadi kacung, bahkan sampai ditindas dengan segala hinaan dan cacian dari teman-teman termasuk udin, selalu salah setiap bapak melakukan apa yang mereka perintahkan.
Sampai pada suatu malam setelah kami melakukan aksi, kami sempatkan mampir sebuah warung dan membeli beberapa botol minuman, setelah itu kami bawa kekontrakan dan meminumnya bersama-sama, pada saat itu bapak tidak mau minum minuman keras itu, karna memang bapak sama sekali tidak suka dengan minuman keras, bapak dipaksa untuk meminum minuman itu, sampai bapak tak sadarkan diri. Pagi harinya saat bapak bangun bapak sudah tak memakai baju, disamping bapak ada seorang wanita sedang menangis karna kehilangan kesuciannya, bapak tak tau kapan wanita itu masuk kamar, atau mungkin wanita itu ada saat bapak tak sadarkan diri. Bapak menanyakan kenapa dia menangis sambil memegang kemaluannya, di bercerita dengan berlinang air mata, wanita itu diperkosa secara bergilir, setelah diperkosa wanita itu dipaksa untuk ikut minum, sampai tak sadarkan diri. Pada saat itulah mereka menidurkan wanita itu disebelah bapak, setelah itu mereka melucuti pakaian bapak, agar terlihat kalau bapak yang bersetubuh dengan wanita itu. Secara diam diam ternyata teman-teman bapak melaporkan kepada warga setempat, bapak diarak keliling kampung, tapi untungnya tidak telanjang. Setelah itu bapak dibawa ke rumah Rt setempat, bapak disidang oleh warga. Yang intinya bapak disuruh bertanggung jawab. Bapak difitnah, bapak dipaksa untuk mengakui kesalahan yang tidak bapak perbuat.
Jarot :
Sekarang wanita itu dmana ?
Bapak :
Wanita itu sekarang ada dirumah sakit nak. Baru saja bapak mengantarkan wanita itu ke rumah sakit, bapak pulang untuk mengambil kartu chek up sebelumnya.
Jarot :
Maksudnya ibu ?
Bapak :
Ya ibumu adalah wanita malang yang direnggut kesuciannya secara paksa.
Jarot :
( jarot mengeluarkan perkataan dengan nada tak percaya )
Anda jangan membohongi saya munir. Anda piker dengan saya percaya perkataan anda, saya langsung berpihak untuk membela anda ?
Ha ha ha ha
Munir..muniir..
Bapak :
( menanggapi dengan senyum ringan )
Ha ha… terserah nak, kalau kamu tidak percaya, tapi dengarkan semua cerita bapak.
Jarot :
Lalu ?
Bapak :
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan terus berputar, sejak kejadian malam itu teman-teman bapak sama sekali tak mau bertemu dengan bapak, bahkan satu persatu meninggalkan bapak, udin yang dulu bapak anggap sebagai teman yang sejati ikut mengucilkan bapak.
Karna malu, bapak keluar dari universitas tempat bapak berkuliah, bapak pindah ke daerah lain, satu tahun berselang, bapak melihat udin sedang berbelanja diminimarket dekat kampus bapak, udin berbelanja dengan wanita yang sedang menggendong bayi. Bapak berfikir, mungkin udin sekarang sudah tobat. Bapak kembali melanjutkan langkah bapak untuk menuju rumah paman.
Bapak berkuliah sambil berjualan dikios bunga milik paman, untuk membiayai semua kebutuhan hidup bapak, termasuk istri bapak saat itu yang sedang mengandung anak dari teman-teman bapak. Suatu sore udin mampir kekios bunga tempat bapak bekerja, udin datang berdua, dengan istrinya, bapak kaget dengan kedatangan udin, selain itu yang lebih mengagetkan bapak adalah, wanita yang bersama udin ternyata erika. Kekasih bapak pada saat bapak belum difitnah.
Erika meninggalkan bapak setelah erika tau bapak tidur dengan wanita lain dan Erika datang meminta kejelasan hubungan saat bapak melakukan akad nikah, erika datang dengan berlinang air mata. Sejak saat itulah kamipun terpisah, terpisah segalanya.
Udin memeluk bapak, seolah olah tak ada coretan hitam yang ia lakukan dan Erika hanya tersenyum ringan seolah seperti orang lain.mereka datang hendak memesan karangan bunga bertuliskan duka dan sekeranjang kecil perlengkapan bunga untuk disebarkan diatas makam.
( ditengah cerita, bapak batuk dan meminta tolong jarot untuk mengambilkan obat dilaci meja bapak )
Ohok..ohok..ohok..
Ohok..ohok..ohok.. tolong ambilkan obat bapak didalam laci no 2 nak.
Ohok..ohok..ohok..
( jarot mengambilkan obat dengan ekspresi sedikit memelas kepada bapak, tapi tetap jarot ingin bapak terus melanjutkan critanya )
Jarot :
Silakan, anda bisa lanjutkan kembali ceritanya.
Bapak :
Baik..baik, bapak akan lanjutkan ceritanya. Ohok...ohok..
Setelah itu untuk sekedar basa basi, bapak menanyakan kepada udin siapa yang meninggal, udin dengan tertunduk lesu menjawab, “ bapak mertua saya”, bapak ikut tertunduk lesu mendengar kabar duka tersebut, bapak menatap Erika dan mengucapkan turut berbela sungkawa. Erika hanya tersenyum dan sedikit meneteskan air matanya. Setelah mereka memesan, mereka meninggalkan alamat yang akan dikirim bunga. Setelah itu mereka pergi, dan semuanya berlalu. Seminggu tlah berlalu, sejak bapak mengirim bunga duka. Bapak terus teringat ingat wajah Erika. Tapi buat bapak itu hanya sekedar ilusi, realitanya bapak sekarang sudah punya wanita lain, dan dia bersama udin. Kasih tak sampai.. hehehe
( jarot ikut tersenyum )
Haha.. kisah cintanya seperti di film india.
Jarot :
Memang bapakkan suka lihat film india.
Bapak :
Hahaha.. iya iya iya,, kamu masih ingat juga ya, kesenangan bapak.
Hahaha..
Jarot :
Trus jarot anak siapa pak ?
Bapak :
( bapakk yang tadinya tertawa, sekejap gugup tersipu malu, mendengar pertanyaang jarot )
Ooh..oh.. ya.. bapak sampai lupa, maaf maaf nak, maafkan bapak, saking terharunya bapak bercerita sampai lupaa, hehe.
Baik..baik.. akan bapak lanjutkan.
( bapak kembali melanjutkan cerita, sambil menyalakan rokok cerutu favoritnya )
Waktu itu pukul 23.45 hampir tengah malam, keadaan diluar rumah sedang hujan lebat, terdengar ketukan pintu berulang-ulang, bapak keluar untuk melihat siapa yang mengetuk pintu, setelah bapak membuka pintu, tidak ada orang dibalik pintu tersebut, yang ada justru keranjang kue yang berisi seorang bayi laki-laki mungil, dan sepucuk surat. Isi surat itu ternyata dari Erika.
Jarot :
( mengkerutkan dahi )
Surat ?? apa isi suratnya ?
“isi
surat”
Teruntuk mas munir, semoga selalu dalam lindungan tuhan,, amiin
Erika tulis surat ini saat senja terangkan keindahan, dan malam isyaratkan kedamaian.
Ku titipkan anugrah illahi dalam keranjang rotan.
Supaya terselamatkan, dari budak setan.
Rawatlah darah dagingku seperti darah dagingmu sendiri.
Jangan sampai suamiku mengetahui keberadaan anak ini.
kelak jika anakku sudah dewasa nanti.
Tolong berikan surat wasiat ini ke anakku.
Karena saat fajar nanti anakku sudah tak bisa minum air susuku.
Bahkan tak bsa lagi merasakan belai lembut kasih sayangku.
Semoga engkau mengerti isi surat ini mas, rasa sayangku kepadamu tak akan pernah hilang.
Terimakasih atas kesediaanmu merawat anakku.
Salam sayangku untukmu, istrimu dan calon anak yang ada dikandungan istrimu
Teruntuk mas munir, semoga selalu dalam lindungan tuhan,, amiin
Erika tulis surat ini saat senja terangkan keindahan, dan malam isyaratkan kedamaian.
Ku titipkan anugrah illahi dalam keranjang rotan.
Supaya terselamatkan, dari budak setan.
Rawatlah darah dagingku seperti darah dagingmu sendiri.
Jangan sampai suamiku mengetahui keberadaan anak ini.
kelak jika anakku sudah dewasa nanti.
Tolong berikan surat wasiat ini ke anakku.
Karena saat fajar nanti anakku sudah tak bisa minum air susuku.
Bahkan tak bsa lagi merasakan belai lembut kasih sayangku.
Semoga engkau mengerti isi surat ini mas, rasa sayangku kepadamu tak akan pernah hilang.
Terimakasih atas kesediaanmu merawat anakku.
Salam sayangku untukmu, istrimu dan calon anak yang ada dikandungan istrimu
erika
ibumu dibunuh oleh bapakmu udin, saat itu bapakmu terus mencarimu untuk dibunuh, sampai sekarang.
Jarot :
Dibunuh ?? kenapa dia ingin membunuhku ??
Bapak :
Cuman untuk satu tujuan, dengan menghabisi nyawamu, berarti habis sudah keturunan dari harjo subroto. Maka jatuhlah seluruh kekayaan harjo subroto.
Jarot :
Harjo subroto ? siapa dia ?
Bapak :
Dia adalah kakekmu, seorang pengusaha cengkeh dan migas yang sukses, kekayaannya tak akan habis sampai tuju turunan, makanya udin sangat berambisi ingin menguasai semua harta kakekmu, dengan membunuh satu per satu keturunan dari kakekmu.
Jarot :
( dengan nada marah, jarot mengumpat, dan berdiri, hendak menemui udin )
Biaadaaab kau udiiinnn !!!!! Dasar iblis !!!
Bapak :
Heh..!! mau kemana ?
Jarot :
Mau membalas rasa sakit yang selama ini ibu derita !!!
( jarot mengurungkan niatnya untuk membalas sakit hati ibunya, dan kembali duduk disebelah bapak, mendengarkan kembali cerita bapak )
Bapak :
Percuma …. Sekarang udin adalah seorang yang kaya raya, dia anggota pemerintahan, sangat susah untuk menemuinya, apa lagi untuk sekedar mengingatkan memory kelam dia tentang kejadian 22 tahun yang lalu.
Sudahlah, duduk kembali .
kalau ada sebutan yang lebih sadis daripada iblis, itulah sebutan yang pantas untuknya…
Dan sekarang bapak mau bertanya, kenapa kau ingin membebaskan udin ?
Jarot :
Jarot menemukan foto ini pak.
Bapak :
( tersenyum sinis )
Hehehe… ya nak, itu fotomu saat bersama ayah dan ibumu, bapak temukan didalam selimut yang menghangatkanmu waktu kau ditinggalkan ibumu. Tujuannya supaya saat besar nanti kau tau wajah ayah dan ibumu.
( menatap jarot )
Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan nak, kamu sudah tau semuanya,
Jarot :
Jarot ingin lihat surat wasiat yang dititipkan ibu ke bapak.
Bapak :
Surat wasiat itu ada didalam buku filsafat hukum, bukunya ada didalam lemari.
( jarot pergi menuju lemari tempat buku itu disimpan, tapi saat langkah ke tiga, tiba2 jarot melihat lingkaran yang semakin dilihat semakin jelas bahwa itu pucuk senjata laras panjang yang mengarah ke kepala bapak, sontak jarotpun melompat melindungi bapak, akhirnya jarot tertembak pada bagian punggung dan peluru tersebut tembus hingga dada, suara tembakkan dari balik jendela ruangan bapak )
Jarot :
Awas pakk… !!!!!
Dor !!!
Bapak :
Aakkkhhhh….
Jaroooottt… anakku
Aaaarrrggghhhttt……!!!!
Jaroooooottt…
( bapak cepat-cepat mengambil pistol jarot yang diletakkan diatas meja tamu diruangan kerja bapak, dan bapak menembakkan pistol itu kearah jendala, tapi saying penembak itu langsung bergegas perg, setelah menembak bapak memeluk jarot sambil menangis jarot )
Dor ….!!! Dor….!!! Dor…. !!!
LAMPU PERLAHAN MATI. 4 Mei 2012
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar