Apa artinya kemerdekaan
Karya : obi suharjono
(Keadaan
gelap dan sunyi, lampu menyala terlihat di sebelah kanan panggung ada kursi dan
meja yang berisikan tumpukan buku. )
( Tiba-tiba
datang lelaki separuh baya menggerutu. )
Orang-orang
ini maunya apa, sudah di kasih keringanan, eh… minta lagi.
Pake ngomong
pemerintah tidak memperhatika rakyatlah, tidak peduli dengan rakyatlah,
menyengsarakan rakyatlah, hah… saya jadi pusing…
66 tahun
Indonesia merdeka, masih saja ada orang-orang yang seperti itu. Memaksa,
mendramatisir masalah…
Harusnya
mereka itu berfikir, cari tahu system pemerintahan itu bagaimana, jangan Cuma
senengnya protes, menghujat, bahkan sampai ada yang… ahh… sudahlah, jadi tambah
pusing…
( Duduk di
kursi dan belakang meja sambil baca buku )
Harusnya
mereka itu beruntung, mereka para generasi muda tidak mengalami yang namanya
peperangan dengan para penjajah, penyiksaan oleh kaum komunis… tidak seperti
saya dulu, sekolah saja saya harus ngumpet-ngumpet… makan harus nunggu dai sisa
orang-orang… hemm… tapi hal-hal seperti itu lah yang membuat orang-orang jaman
dulu pintar-pintar, sehat, kuat…tidak seperti orang-orang jaman sekarang yang
bisanya cuman mengeluh… saya heran, kenapa orang-orang jaman sekarang seperti
itu…
( berfikir )
Apa ini
dampak dari kemerdekaan ??? ( bertanya kepada penonton )
Ehh… pak lik,
Bu Lik, Pak dhe, Om, Tante, kalian tahu ngga’ kalau kemerdekaan itu ialah hak
segala bangsa ???
( sekali lagi
bertanya dengan nada halus )
pak lik, bu
lik, pak dhe, om, tante, kalian tahu ngga’ kalau kemerdekaan itu ialah hak
segala bangsa ???
( Bertanya
sekali lagi dengan nada membentak )
Kalian tahu
ngga’ kalau kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa !!!
Terus… apa
kalian juga tahu apa artinya kemerdekaan ???
Kalian tahu
apa tidak !!!
( Bertanya
kepada salah satu penonton )
Ehh… saya mau
bertanya, apa kamu tahu apa artinya kemerdekaan ???
Tahu…??? Apa
??? bebas… kemerdekaan adalah kebebasan ???
Berarti kalau
kemerdekaan adalah kebebasan, kita juga bebas melakukan apapun ???
Ya… bebas
telanjang di bibir jalan, bebas menghujat siapapun, beas mengambil uang rakyat…
Begitu ???
begitu ya ???
( Marah…)
Bodoh…
goblog… kalau kalian mengartikan kemerdekaan adalah kebebasan, kenapa kalian
selalu protes ketika ada orang-orang yang hobinya mengambil uang rakyat ???
kenapa kalian menghujat ketika ada seseorang yang mengumbar hubungan
seksualitasnya di video… ???
Seharusnya
kalian tidak usah protes, harusnya kalian juga tidak usah menghujat,
( Duduk
sebagai terdakwa yang sedang di sidang ; menangis dan menyesal )
Ingat kalian,
terdakwa korupsi yang menghebohkan negeri kita ???
Huhuuhuhu…..
Saya sebenarnya menyesal Pak Hakim… Saya khilaf… Saya tersiksa di dalam
penjara… Saya kangen keluarga ; Anak Saya… Istri Saya… makanya pada saat Saya
di tawari untuk berlibur beberapa hari di kota Dewata, Saya langsung mengambil
kesempatan itu… walaupun Saya harus membayar mahal…
( Kembali ke
karakter semula dan bertanya kepada penonton )
Bagaimana ???
apakah kalian ingat dengan orang ini ??? yang di anggap oleh semua orang adalah
penjahat nomer satu di negeri ini…
Kalau kalian
ingat, apakah kalian masih mempertahankan jawaban kalian, kalau kemerdekaan
adalah kebebasan ???
( Kembali ke
kursi dan meja )
Kalau kalian
bingung mengertika kemerdekaan, jangan lah kalian bangga ketika kalian
berteriak… MERDEKA…!!! MERDEKA…!!! MERDEKA…!!!
Apakah kalian
pernah merenung sebelum kalian berteriak merdeka ???
(
Berimajinasi sebagai “ seorang pejuang tanpa tanda jasa ” )
( Setelah
selesai berimajinasi, lalu membacakan sajak dari Taufik Ismail yang berjudul :
Surat ini adalah sebuah sajak terbuka )
Ketika Saya
melihat bangsa ini, Saya teringat kawan seperjuangan yang pernah menuliskan
sebuah sajak terbuka, teruntuk anak negeri…
Surat ini adalah sebuah sajak terbuka
Surat ini
adalah sebuah sajak terbuka
Di tulis
pada sebuah sore yang biasa.
Oleh
seorang warga Negara biasa
Dari
republik ini
Surat ini
di tujukan kepada penguasa-penguasa negeri ini
Mungkin
dia bernama presiden, jenderal. gubernur,
Barangkali
dia ketua MPRS
Taruh lah
dia anggota DPR atau pemilik sebuah perusahan politik
( bernama
partai )
Mungkin
dia mayor, camat atau jaksa
Atau
menteri, apa saja lah namanya
Malahan
mungkin dia sodara sendiri
Jika ingin
saya tanyakan adalah
Tentang
harga sebuah nyawa di Negara kita
Begitu
benarkah murahnya ?
Agaknya
setiap bayi di lahirkan di Indonesia
ketika
tali-nyawa dihembuskan Tuhan ke pusarnya
dan
menjeritkan tangis bayinya yang pertama
ketika
sang ibu menahankan pedih rahimnya
di kamar
bersalin ; dan seluruh keluarga mendoa dan menanti
ingin akan
datangnya anggota kemanuisiaan baru ini
ketika itu
tak seorangpun tahu
bahwa 20,
22, atau 25 tahun kemudian
bayi itu
akan di tembak bangsanya sendiri
dengan
pelor yang di bayar dari hasil bumi
serta
pajak kita semua
di jalan
raya, di depan kampus, atau dimana saja
dan dia
tergolek disana jauh dari ibu yang melahirkannya
jauh dari
ayahnya, yang juga mugkin sudah tiada
bayi itu
pecahlah dadanya
mungkin
tembus keningnya
darah
kasih sayang
darah lalu
melepasnya dari dunia
darah
kebencian
yang ingin
saya tanyakan adalah
tentang
harga sebuah nyawa di negara kita
begitu
benarkah gampangnya ?
apakah
mesti pembunuhan itu penyelesaian
begitu
benarkah murahnya ?
mungkin
sebuah nama lebih penting
disiplin,
tegang, dan kering
mungkin
pengabdian kepada Negara Negara asing
lebih
penting
mungkin
surat ini
adalah sajak terbuka
maafkan
para student sastra
saya telah
menggunakan bahasa terlalu biasa
untuk
puisi ini. Kalaulah ini bisa disebut puisi
maafkan
saya menggunakan bahasa terlalu biasa
karena
pembunuhan-pembunuhan di negeri ini pun
nampaknya
juga sudah mulai terlalu biasa
kita tak
biasa membiarkannya lebih lama
kemudian
kita di penuhi pertanyaan
benarkah
nyawa begitu murah harganya ?
untuk
suatu penyelesaian
benarkah
harga diri manusia kita
benarkah
kemanusiaan kita
begitu
murah untuk umpan sebuah pidato
sebuah
ambisi
sebuah
ideologi
sebuah
coretan sejarah
benarkah
( actor
melihat ke penonton )
Apa artinya
kemerdekaan, bila nyawa tak di hiraukan…
Apa artinya
kemerdekaan, bila hati kita masih tersiksa…
Apa artinya
kemerdekaan, bila harga diri bangsa berada di bawah telapak kaki bangsa-bangsa
komunis…
( lampu mati
; selesai )
17
februari 2011
mantaaap
BalasHapus